Jurnal 1: Identifikasi Masalah

Image
Bismillahirahmannirahiim Hari ini, Kamis 6 Juli 2023 Di rumah sakit Bintang Amin Kamar 6345 Menulis jurnal pertama, mencoba menyemangati diri kembali supaya kembali terhubung dengan komunitas, do some rhing, finish one thing and be happy Be brave, Be real Be you

Mengenal Emosi Negatif : Marah

Stress, cemas dan berbagai emosi negatif seperti sedih, kecewa, marah kesal, jenuh dan penat sesungguhnya tidak bisa kita hindari secara penuh. Hal ini karena adanya perubahan-perubahan  dalam kehidupan yang berlangsung cepat dan kompleks. Terutama di masa Pandemi saat ini (Covid-19) yang telah mengusung perilaku baru (New Normal). 

Emosi marah akhirnya menjadi salah satu emosi negatif yang paling sulit diatasi. Padahal rasa marah yang terus menerus bergejolak dapat menimbulkan suasana hati yang tidak nyaman, menjadi lebih iritabel (sensitif) dan tidak tenang. Hal ini akhirnya dapat menimbulkan tekanan psikis yang lebih berat. Pengelolaan rasa marah yang kurang efektif juga mampu menimbulkan dorongan dendam dan ingin melampiaskannya.

Sesungguhnya bahaya marah menurut para ahli psikologi dapat dilihat dari tiga perspektif, yaitu:

1. Bahaya psikologis
Hal ini berhubungan dengan tekanan psikososial dan infark jantung. Dibuktikan dengan penelitian bahwa pasien yang mengalami infark jantung mempunyai rasa marah (92%) yang disimpan dalam jangka waktu yang lama. Penelitian Dayer (1999) juga menyatakan amarah juga dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, bisul, bintik-bintik merah pada kulit, jantung berdebar, sukar tidur, letih dan juga penyakit jantung.

2. Bahaya Psikologis
Pelampiasan rasa marah yang berlebihan terkadang menimbulkan penyesalan dan mendorong untuk menghukum diri sendiri yang dapat berakibat mulculnya depresi karena beban jiwa (sickness of soul).

3. Bahaya Sosial
Emosi marah dan pelampiasan yang maladaptif tentu dapat mengakibatkan hubungan sosial yang tidak harmonis antara pasangan ,teman, lingkungan kerja bahkan bisa jadi berurusan dengan hukum. Hal inilah yang kemudian membuat kehidupan sosial menjadi tidak nyaman. 

Karena perubahan kehidupan tidak dapat kita hindari (sebagai stressor), maka yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir dampak dari stress yang bisa menimbulkan rasa marah dengan meningkatkan kemampuan dalam mengelola emosi secara konstruktif dan efektif.

Kemarah itu sendiri dapat berupa kemarahan yang dipendam (anger in), kemarahan yang meledak-ledak (anger out) dan kemarahan tanpa pengendalian diri ( anger control).

Salah satu cara untuk mengelola emosi adalah melalui latihan relaksasi. Relaksasi bertujuan untuk menurunkan tingkat ketegangan psikis dan fisiologis akibat tekanan stressor. Relaksasi dapat menggantikan keadaan tertekan menjadi lebih santai dan tenang. Relaksasi juga dapat disertai dengan teknik pernafasan. Teknik pernafasan sangat baik dilakukan jika kita mengalami perubahan fisiologis saat marah seperti; sesak di dada, detak jantung menjadi cepat, atau tekananan darah meningkat. 

Teknik pernafasan dapat dilakukan dengan cara menarik nafas dalam-dalam, menahannya sekitar 5-10 detik, kemudian menghembuskan kembali perlahan-lahan. Selama teknik pernafasan lakukan sugesti positif pada diri sendiri " Saya dalam kondisi tenang", "semua akan baik-baik saja" atau " saya dapat melewatinya". Jika ini dilakukan rutin akan mampu menurunkan ketegangan dan menimbulkan kondisi tenang dan relaksasi. 

#RumahSabataZaha
#ElsyHidayat
#SehatMental
#relaksasi
#teknikNafas


Comments