Jurnal 1: Identifikasi Masalah

Image
Bismillahirahmannirahiim Hari ini, Kamis 6 Juli 2023 Di rumah sakit Bintang Amin Kamar 6345 Menulis jurnal pertama, mencoba menyemangati diri kembali supaya kembali terhubung dengan komunitas, do some rhing, finish one thing and be happy Be brave, Be real Be you

Berawal dari Change Maker menuju Semesta Berkarya 2021

Bismillah..
Mengabarkan pada dunia tentang kepedulian akan kesehatan mental bukanlah sebuah ekspektasi saya karena saya merasa belum melakukan sesuatu yang besar seperti layaknya teman-teman yang lain di Komunitas Ibu Profesional. Dimulai dengan mencermati dinamika kondisi mental member ketika tergabung disalah satu regional, menjadi fasillitator dalam jenjang kelas komunitas dan kemudian pindah domisili lalu masuk ke regional lainnya. Saya mendapati fenomena yang sama yaitu kasus innerchild  dan konflik internal yang ter-repress yang akhirnya menjadi penghambat untuk menjadi individu yang maksimal dalam perannya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai Ibu hal ini cenderung belum terurai dan belum tertangani secara ‘profesional’ dalam komunitas. Diakui ada sebagian member yang bergabung dengan latar belakang berbagi ilmu, mengambil peran melayani atau mungkin membutuhkan wadah eksistensi. Namun, hendaknya kita tidak menutup mata bahwa ada sebagian orang yang bergabung dengan latar belakang masalah yang dia hadapi, kegelisahan yang dia pendam, dan kebutuhan dasarnya akan support system  yang dia harapkan dipenuhi oleh komunitas. Untuk sebagian member ini, mengakui keberadaannya tidaklah berat dengan latar belakang pengakuan bahwa setiap individu itu unik dan memiliki kemampuan yang berfokus pada hal yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan berbeda dalam memaknai setiap peristiwa yang hadir, maka mereka butuh di support  dengan system dimana mereka adalah salah satu anggota di dalamnya.

Maka sebuah mimpi saya untuk meluaskan manfaat ini dapat dirasakan oleh semua lapisan member Ibu Profesional sehingga benar-benar terwujud dengan nyata bahwa berkomunitas mampu meningkatkan kebahagiaan mereka sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu dengan usulan dalam paper “ Divisi Konselling Berperspektif Gender” dengan mengajak semua lapisan lebih peduli dan empati dengan keadaan emosi member dengan bergerak bersama divisi ini sebagai sarana informasi,  sharing,  ‘release’ dan edukasi tentang pentingnya kesehatan mental pada seorang perempuan sebagai faktor pendukung utama munculnya kemampuan memaksimalkan diri dalam perannya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu dari anak-anak calon pemimpin di bumi ini serta sebagai langkah preventif penanggulangan potensi depresi yang dapat terjadi pada perempuan sebagai member ibu profesional


Maka pemaparan paper tentang “Divisi Konselling berperspektif Gender” untuk Komunitas Ibu Profesional diharapkan mampu menjadi penambahan aplikasi berbasis online untuk menjawab kebutuhan member tentang kebutuhan “me-release” keadaan emosional yang dapat diakses oleh member ketika membutuhkannya baik sebagai peran member atau peran pengurus komunitas untuk menjawab tantangan dan menjadi bagian dari SEMESTA KARYA dalam perwujutan fungsi komunitas untuk dunia yaitu sebagai langkah preventif melindungi generasi berikutnya dalam merespon pernyataan WHO (World Health Organization) dengan prediksi WHO berdasarkan data jumlah individu di dunia yang terkena depresi terus saja meningkat dan di Indonesia sendiri angka penderita stress dan depresi menunjukan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Di prediksikan pada tahun 2020 mendatang Depresi akan menjadi beban kesehatan nomor dua setelah kardiovaskuler, dan di tahun 2030 akan menjadi beban kesehatan no satu di dunia.




Keterlibatan saya dalam acara KONFRENSI IBU PROFESIONAL di Yogyakarta pada tanggal 16, 17 dan 18 Agustus 2019 di Hotel Sahid Raya Jogya bersama seluruh member Ibu Profesional dari 54 kota dan 10 negara lainnya sebagai ibu agen perubahan adalah sebuah langkah kecil saya yang ternyata disambut hangat oleh peserta. Dalam Konfrensi Ibu Prosional yang pertama ini saya sangat terharu melihat para Ibu dengan kesungguhannya menjalani perannya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu yang dimulai dari dalam rumah, dari hal yang paling sederhana. Hari pertama konfrensi dibuka oleh sosok perempuan lokal (Jogyakarta) tempat dilaksanakannya konfrensi yaitu “ Inem Jogya” yang telah menebarkan manfaat luas. Perempuan bernama asli Made Dyah Agustina ini lulusan S2 ISI Jogya dan sempat menjadi dosen di Universitas Sanata Dharma namun memilih menjadi pelaku seni dan turun langsung ke masyarakat untuk menebarkan manfaat seperti memungut sampah, menolong orang lain, membeli sesuatu dari pedagang, membagikan nasi bungkus dengan niat membahagiakan orang lain. Kehadiran sosok inem memberikan pesan untuk menjadi diri sendiri sesuai hati nurani dan teruslah berbuat baik meskipun hal-hal yang terkecil yang bisa kita lakukan untuk orang lain.



Acara dilanjutkan dengan persentasi dari Sumitra Pasupathy dari Ashoka foundation volunteer pertama untuk Ashoka Malaysia yang memberikan cerita penuh inspirasi tentang bagaimana setiap individu mampu menjadi inspirasi dengan dimulai dari diri sendiri. Satu hal yang paling membekas dalam diri saya saat Ibu Sumitra memberikan brain stroming pada seluruh peserta untuk berpasangan dan mengingat “kapan pertamakali anda melakukan kebaikan untuk diri sendiri ?”  ini sekejap memberikan insight kedalam diri sendiri karena dalam beberapa bulan ini tenggelam dengan kesibukan untuk mengerjar target pendidikan dan terlupa untuk mengapresiasi diri sendiri. Sejenak diam dan menyadari nafas lalu saya menyampaikan bahwa saya perlu meminta maaf dengan diri saya sendiri karena telah mengabaikannya. Momen pertama dalam rangkaian konfrensi saya bersyukur dapat diingatkan kembali bahwa mengapresiasi diri sendiri adalah hal yang sangat penting.

Lalu muncullah sosok founder dari komunitas Ibu Profesional yaitu Ibu Septi Peni Wulandani, satu ruangan tertegun penuh kagum seperti anak-anak yang mendengarkan nasehat dari Ibu Ideologisnya. Tenang dan sunyi menyesuaikan dengan nada bicara beliau yang mengalir lembut dan penuh makna. Kalimat sakti yang secara pribadi selalu saya ingat dan menjadi kalimat pertama yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk bergabung di Ibu Profesional adalah: “ Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu “ yang secara individu saya mengartikannya :” cintailah diri anda sendiri dengan penuh, karena hanya orang yang memiliki cintalah yang mampu menyebarkan cinta untuk orang lain”. Saya tidak pernah mengenal sosok beliau sebelumnya, tahu nama beliau dari guru saya pak Munif Chatib ketika menjadi murid di kelas Guardian Angel XI  dan ini pertemuan kami yang ke 3 secara langsung dan tetap dengan kekaguman yang sama terhadap beliau dan keluarganya dan memberikan inspirasi untuk seluruh perempuan Indonesia dan seluruh perempuan di dunia.



Memasuki hari kedua di Konfrensi Ibu Profesional, memasuki ruangan dengan penuh semangat dan harapan bahwa hari ini inspirasi akan semakin kuat karena dating langsung dari pleaku-pelaku perubahan dalam lingkungannya yang dimulai dari diri dan dalam keluarganya lalu menyebarkannya ke lingkungan yang lebih luas. Ada Efi Femiliyah dengan tema Bincang Bernas : Hijrah Nol Sampah. Bagaimana kegelisahan individu terhadap keadaan alam telah memutuskannya untuk mengganti pola manajemen sampah dan akhirnya menularkannya pada lingkungan sekitarnya dan membuat ibu rumah tangga menjadi memiliki pendapatan tambahan dari pengolahan sampah menjadi souvenir ramah lingkungan. Dilanjutkan dengan  Kampanye Anti Bullying dari Tim KLIK yang telah mengaplikasikan ke banyak sekolah untuk membumikan pada anak-anak sekolah menjadi individu yang keren tanpa bully. Acara dilanjutkan dengan dengan pemaparan paper dari Puspaning Dyah FC dari IP Lampung yang memulai peran dirinya dengan program UMKM berbasis sedekah jariah, kemudian dilanjutkan dengan talkshow dari pemilik Supermarket Pamella di Jogya yaitu ibu Pamella sendiri yang memberikan inspirasi bahwa semua perempuan mampu melakukan perubahan dengan tetap berkomunikasi efektif dengan pasangannya dan tetap berperan aktif dalam rumah tangganya. Lalu dilanjutkan dengan persentasi “ Pentingnya Devisi Konselling Berperspektif Gender Untuk Komunitas Ibu Profesional” yang saya sebagai pemateri merasakan sangat kurang waktunya untuk memaparkan hasil riset individu dan data dari member ibu professional itu sendiri, namun tetap berucap syukur sudah menyampaikan dan memberikan data nyata untuk para pengurus Ibu Profesional tentang fenomena kesehatan mental di ruang komunitas Ibu Profesional.



Acara dilanjutkan dengan sesi Tangan terampil yang menampilkan tutorial membuat eco-enzim yang ternyata sangat mudah, sangat sederhana, namun manfaatnya untuk lingkungan dan kesehatan kita sangat luar biasa. Saya terpana dan menjadi menyadari betapa Allah SWT sesungguhnya telah menyiapkan semua kebutuhan kita dibumi ini, hanya tinggal ambil dan memaksimalkannya. mashaaAllah semoga menjadi amal jariayah untuk pematerinya yaitu mba Uswatun Hasanah. Selanjutnya kembali menginspirasidari kisah dari Mata Aksara yang disampaikan oleh Pak Adi tentang perjuangannya dalam membumikan literasi yang dimulai karena fenomena bagaimana membuat ibu yang menunggu anaknya bisa memaksimalkan potensinya selama menunggu menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat untuk dirinya, anaknya dan keluarganya. Rangkaian kegiatan kembali dilanjutkan dengan workshop  dari Ibu Restu Anjarwati tentang bagaimana mendesain menu belajar anak sesuai dengan STTPA. Dan diakhiri dengan sesi : Tangan Terampil oleh mba Puri Fitriani dengan tema “ Ask to Solve” yang memberikan pengalaman pada seluruh peserta bagaimana kekuatan bertanya telah mampu memberdayakan kognitif dan mempererat bonding dalam keluarga. Semua padat ilmu dan meningkatkan kapasitas diri para peserta Konfrensi Ibu Profesional, sangat bangga dan terharu menjadikan dan merasakan bagaimana semboyan Ibu Profesional telah dinyatakan: SEMUA guru SEMUA murid, nyatalah adanya.

Selesaikah untuk hari kedua ? Belum..
Ada kehadiran para Changemaker  inspiratif dari masjid kebanggan Jogyakarta yaitu masjid Jogokariyan yang memaparkan bagaimana masjid melayani jamaah dengan penuh cinta dan kasih sayang pada makhluk Allah dan menyampaikan bagaimana mereka melakukan perubahan dalam masyarakat dengan berbasiskan data yang menjadikan perubahan itu tepat sasaran dan menjadi maksimal kebermanfaatnnya, mashaaAllah tabarakallah. Lalu dilanjutkan dengan pemilihan kategori “ Change maker Family”  yang dipilih berdasarkan langkah nyata para member dalam memaksimalkan kapasitas dirinya dan keluarganya lalu menebar manfaat ke dalam lingkungannya, terharu sekali menyaksikan: Mba Ressy Laila Untari Ningsih, Ika Pratidina dan Hilda Lu’lu’in dalam langkahnya menebar manfaat disekitarnya, kisah mereka memberikan energy baru serta inspirasi untuk saya pribadi untuk lebih semangat dan lebih tertata dalam menebar manfaat untuk lingkungan luas. Lalu malamnya dilanjutkan dengan persentasi dari Pak Dodik Marianto dengan tema : Perempuan berdaya. Pemaparan disini benar-benar memberikan energi terisi penuh untuk seluruh perserta Konfrensi Ibu Profesional dengan semboyan yang paling saya ingat: hal pertama untuk mewujudkan mimpi adalah bangkit dan terus bergerak : dream it, do it and share it.



Kejutan berikutnya dihari ketiga adalah hadirnya tokoh Perempuan penuh inspirasi yaitu Ibu Tri mumpuni yang hadir menjadi pembicara di Konfrensi Ibu Profesional, menetes haru air mata ini mendengar kisah dan perjuangan beliau sebagai kecintaan beliau terhadap tanah air Indonesia ini, beliau sungguh menyadarkan saya betapa saya belum melakukan apa-apa untuk negeri tercinta ini, terimakasih Ibu untuk kebahagiaan yang kau hadirkan dalam ruang Konfrensi dengan penuh cinta, semoga Allah SWT memuliakanmu di dunia dan akherat, aamiin. Rangkaian dilanjutkan dengan tema: Perempuan Berdaya oleh Ibu Septi Peni yang penuh kewibawaan dan kehangatan khas perempuan yang menjadi pengisi energi para peserta konfrensi. Untuk sesi akhir acara di hari ketiga ini di tutup dengan pembacaan puisi tentang kemerdekaan lalu dilanjutkan dengan deklarasi Konfrensi Ibu Profesional oleh Ibu Septi Peni Wulandari yang berisi komitmen para perempuan untuk terus berdaya dan menebarkan manfaatnya yang dimulai dari diri sendiri, bersungguh-sungguh dalam keluarga dan lalu menebarkannya untuk lingkungan disekitarnya. Kuat tekat saya untuk kembali hadir di Konfrensi Berikutnya dalam tema : SEMESTA KARYA. Aamiin.


Tak henti-henti rasanya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT yang telah memberikan izin dan banyak kemudahan untuk dapat hadir dan menjadi bagian di Konfrensi Ibu Profesional pertama ini. Karena konfrensi ini dalam kacamata saya  ternyata telah mampu menaikan  self esteem (harga diri) , koping strategi  yang efektif dan terbentuknya support system yang solid dalam perasaan saling memiliki dalam komunitas Ibu Profesional. Bergabunglah seluruh perempuan Indonesia dan menjadi berdayalah untuk dunia yang lebih baik sebagai persembahan untuk generasi-generasi berikutnya. Terimakasih Ibu Profesional.  


Comments

Popular posts from this blog

Jurnal 1: Identifikasi Masalah

(10) Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng

Jurnal 16 : Peran sebagai Speaker HCVC dan Aliran Rasa