Bismillah..
Mengabarkan
pada dunia tentang kepedulian akan kesehatan mental bukanlah sebuah ekspektasi
saya karena saya merasa belum melakukan sesuatu yang besar seperti layaknya
teman-teman yang lain di Komunitas Ibu Profesional. Dimulai dengan mencermati
dinamika kondisi mental member ketika tergabung disalah satu regional, menjadi
fasillitator dalam jenjang kelas komunitas dan kemudian pindah domisili lalu
masuk ke regional lainnya. Saya mendapati fenomena yang sama yaitu kasus innerchild dan konflik internal yang ter-repress yang akhirnya menjadi penghambat
untuk menjadi individu yang maksimal dalam perannya sebagai perempuan, sebagai
istri dan sebagai Ibu hal ini cenderung belum terurai dan belum tertangani
secara ‘profesional’ dalam komunitas. Diakui ada sebagian member yang bergabung
dengan latar belakang berbagi ilmu, mengambil peran melayani atau mungkin
membutuhkan wadah eksistensi. Namun, hendaknya kita tidak menutup mata bahwa
ada sebagian orang yang bergabung dengan latar belakang masalah yang dia
hadapi, kegelisahan yang dia pendam, dan kebutuhan dasarnya akan support system yang dia harapkan dipenuhi oleh komunitas. Untuk
sebagian member ini, mengakui keberadaannya tidaklah berat dengan latar
belakang pengakuan bahwa setiap individu itu unik dan memiliki kemampuan yang
berfokus pada hal yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan berbeda dalam
memaknai setiap peristiwa yang hadir, maka mereka butuh di support dengan system dimana
mereka adalah salah satu anggota di dalamnya.
Maka
sebuah mimpi saya untuk meluaskan manfaat ini dapat dirasakan oleh semua
lapisan member Ibu Profesional sehingga benar-benar terwujud dengan nyata bahwa
berkomunitas mampu meningkatkan kebahagiaan mereka sebagai seorang perempuan,
sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu dengan usulan dalam paper “ Divisi Konselling
Berperspektif Gender” dengan mengajak semua lapisan lebih peduli dan empati
dengan keadaan emosi member dengan bergerak bersama divisi ini sebagai sarana
informasi, sharing, ‘release’ dan edukasi tentang pentingnya
kesehatan mental pada seorang perempuan sebagai faktor pendukung utama
munculnya kemampuan memaksimalkan diri dalam perannya sebagai perempuan,
sebagai istri dan sebagai ibu dari anak-anak calon pemimpin di bumi ini serta
sebagai langkah preventif penanggulangan potensi depresi yang dapat terjadi
pada perempuan sebagai member ibu profesional
Maka
pemaparan paper tentang “Divisi Konselling berperspektif Gender” untuk
Komunitas Ibu Profesional diharapkan mampu menjadi penambahan aplikasi berbasis
online untuk menjawab kebutuhan member tentang kebutuhan “me-release” keadaan
emosional yang dapat diakses oleh member ketika membutuhkannya baik sebagai
peran member atau peran pengurus komunitas untuk menjawab tantangan dan menjadi
bagian dari SEMESTA KARYA dalam
perwujutan fungsi komunitas untuk dunia yaitu sebagai langkah preventif
melindungi generasi berikutnya dalam merespon pernyataan WHO (World Health Organization)
dengan prediksi WHO berdasarkan data jumlah individu di dunia yang terkena
depresi terus saja meningkat dan di Indonesia sendiri angka penderita stress
dan depresi menunjukan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Di prediksikan
pada tahun 2020 mendatang Depresi akan menjadi beban kesehatan nomor dua
setelah kardiovaskuler, dan di tahun 2030 akan menjadi beban kesehatan no satu
di dunia.

Keterlibatan
saya dalam acara KONFRENSI IBU PROFESIONAL di Yogyakarta pada tanggal 16, 17 dan
18 Agustus 2019 di Hotel Sahid Raya Jogya bersama seluruh member Ibu
Profesional dari 54 kota dan 10 negara lainnya sebagai ibu agen perubahan
adalah sebuah langkah kecil saya yang ternyata disambut hangat oleh peserta. Dalam
Konfrensi Ibu Prosional yang pertama ini saya sangat terharu melihat para Ibu
dengan kesungguhannya menjalani perannya sebagai perempuan, sebagai istri dan
sebagai ibu yang dimulai dari dalam rumah, dari hal yang paling sederhana. Hari
pertama konfrensi dibuka oleh sosok perempuan lokal (Jogyakarta) tempat
dilaksanakannya konfrensi yaitu “ Inem Jogya” yang telah menebarkan manfaat luas.
Perempuan bernama asli Made Dyah Agustina ini lulusan S2 ISI Jogya dan sempat
menjadi dosen di Universitas Sanata Dharma namun memilih menjadi pelaku seni
dan turun langsung ke masyarakat untuk menebarkan manfaat seperti memungut
sampah, menolong orang lain, membeli sesuatu dari pedagang, membagikan nasi
bungkus dengan niat membahagiakan orang lain. Kehadiran sosok inem memberikan
pesan untuk menjadi diri sendiri sesuai hati nurani dan teruslah berbuat baik
meskipun hal-hal yang terkecil yang bisa kita lakukan untuk orang lain.

Acara
dilanjutkan dengan persentasi dari Sumitra Pasupathy dari Ashoka foundation volunteer
pertama untuk Ashoka Malaysia yang memberikan cerita penuh inspirasi tentang bagaimana
setiap individu mampu menjadi inspirasi dengan dimulai dari diri sendiri. Satu hal
yang paling membekas dalam diri saya saat Ibu Sumitra memberikan brain stroming pada seluruh peserta
untuk berpasangan dan mengingat “kapan
pertamakali anda melakukan kebaikan untuk diri sendiri ?” ini sekejap memberikan insight kedalam diri sendiri karena dalam beberapa bulan ini
tenggelam dengan kesibukan untuk mengerjar target pendidikan dan terlupa untuk
mengapresiasi diri sendiri. Sejenak diam dan menyadari nafas lalu saya
menyampaikan bahwa saya perlu meminta maaf dengan diri saya sendiri karena telah
mengabaikannya. Momen pertama dalam rangkaian konfrensi saya bersyukur dapat
diingatkan kembali bahwa mengapresiasi diri sendiri adalah hal yang sangat
penting.
Lalu
muncullah sosok founder dari komunitas Ibu Profesional yaitu Ibu Septi Peni
Wulandani, satu ruangan tertegun penuh kagum seperti anak-anak yang
mendengarkan nasehat dari Ibu Ideologisnya. Tenang dan sunyi menyesuaikan
dengan nada bicara beliau yang mengalir lembut dan penuh makna. Kalimat sakti
yang secara pribadi selalu saya ingat dan menjadi kalimat pertama yang akhirnya
membuat saya memutuskan untuk bergabung di Ibu Profesional adalah: “
Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan
itu “ yang secara individu saya mengartikannya :” cintailah diri anda sendiri
dengan penuh, karena hanya orang yang memiliki cintalah yang mampu menyebarkan
cinta untuk orang lain”. Saya tidak pernah mengenal sosok beliau sebelumnya,
tahu nama beliau dari guru saya pak Munif Chatib ketika menjadi murid di kelas Guardian Angel XI dan ini pertemuan kami yang ke 3 secara
langsung dan tetap dengan kekaguman yang sama terhadap beliau dan keluarganya
dan memberikan inspirasi untuk seluruh perempuan Indonesia dan seluruh
perempuan di dunia.

Memasuki
hari kedua di Konfrensi Ibu Profesional, memasuki ruangan dengan penuh semangat
dan harapan bahwa hari ini inspirasi akan semakin kuat karena dating langsung
dari pleaku-pelaku perubahan dalam lingkungannya yang dimulai dari diri dan
dalam keluarganya lalu menyebarkannya ke lingkungan yang lebih luas. Ada Efi
Femiliyah dengan tema Bincang Bernas : Hijrah Nol Sampah. Bagaimana kegelisahan
individu terhadap keadaan alam telah memutuskannya untuk mengganti pola
manajemen sampah dan akhirnya menularkannya pada lingkungan sekitarnya dan
membuat ibu rumah tangga menjadi memiliki pendapatan tambahan dari pengolahan
sampah menjadi souvenir ramah lingkungan. Dilanjutkan dengan Kampanye Anti Bullying dari Tim KLIK yang
telah mengaplikasikan ke banyak sekolah untuk membumikan pada anak-anak sekolah
menjadi individu yang keren tanpa bully. Acara dilanjutkan dengan dengan pemaparan paper dari Puspaning Dyah FC dari IP Lampung yang memulai peran dirinya dengan program UMKM berbasis sedekah jariah, kemudian dilanjutkan dengan talkshow dari pemilik Supermarket
Pamella di Jogya yaitu ibu Pamella sendiri yang memberikan inspirasi bahwa
semua perempuan mampu melakukan perubahan dengan tetap berkomunikasi efektif
dengan pasangannya dan tetap berperan aktif dalam rumah tangganya. Lalu
dilanjutkan dengan persentasi “ Pentingnya Devisi Konselling Berperspektif
Gender Untuk Komunitas Ibu Profesional” yang saya sebagai pemateri merasakan
sangat kurang waktunya untuk memaparkan hasil riset individu dan data dari
member ibu professional itu sendiri, namun tetap berucap syukur sudah
menyampaikan dan memberikan data nyata untuk para pengurus Ibu Profesional
tentang fenomena kesehatan mental di ruang komunitas Ibu Profesional.

Acara
dilanjutkan dengan sesi Tangan terampil yang menampilkan tutorial membuat
eco-enzim yang ternyata sangat mudah, sangat sederhana, namun manfaatnya untuk
lingkungan dan kesehatan kita sangat luar biasa. Saya terpana dan menjadi
menyadari betapa Allah SWT sesungguhnya telah menyiapkan semua kebutuhan kita
dibumi ini, hanya tinggal ambil dan memaksimalkannya. mashaaAllah semoga
menjadi amal jariayah untuk pematerinya yaitu mba Uswatun Hasanah. Selanjutnya kembali
menginspirasidari kisah dari Mata Aksara yang disampaikan oleh Pak Adi tentang perjuangannya
dalam membumikan literasi yang dimulai karena fenomena bagaimana membuat ibu
yang menunggu anaknya bisa memaksimalkan potensinya selama menunggu menjadi
kegiatan yang lebih bermanfaat untuk dirinya, anaknya dan keluarganya. Rangkaian
kegiatan kembali dilanjutkan dengan workshop
dari Ibu Restu Anjarwati tentang bagaimana
mendesain menu belajar anak sesuai dengan STTPA. Dan diakhiri dengan sesi : Tangan
Terampil oleh mba Puri Fitriani dengan tema “ Ask to Solve” yang memberikan
pengalaman pada seluruh peserta bagaimana kekuatan bertanya telah mampu
memberdayakan kognitif dan mempererat bonding dalam keluarga. Semua padat ilmu
dan meningkatkan kapasitas diri para peserta Konfrensi Ibu Profesional, sangat
bangga dan terharu menjadikan dan merasakan bagaimana semboyan Ibu Profesional
telah dinyatakan: SEMUA guru SEMUA murid, nyatalah adanya.
Selesaikah
untuk hari kedua ? Belum..
Ada
kehadiran para Changemaker inspiratif dari masjid kebanggan Jogyakarta
yaitu masjid Jogokariyan yang memaparkan bagaimana masjid melayani jamaah
dengan penuh cinta dan kasih sayang pada makhluk Allah dan menyampaikan
bagaimana mereka melakukan perubahan dalam masyarakat dengan berbasiskan data
yang menjadikan perubahan itu tepat sasaran dan menjadi maksimal
kebermanfaatnnya, mashaaAllah tabarakallah. Lalu dilanjutkan dengan pemilihan
kategori “ Change maker Family” yang dipilih berdasarkan langkah nyata para
member dalam memaksimalkan kapasitas dirinya dan keluarganya lalu menebar
manfaat ke dalam lingkungannya, terharu sekali menyaksikan: Mba Ressy Laila
Untari Ningsih, Ika Pratidina dan Hilda Lu’lu’in dalam langkahnya menebar
manfaat disekitarnya, kisah mereka memberikan energy baru serta inspirasi untuk
saya pribadi untuk lebih semangat dan lebih tertata dalam menebar manfaat untuk
lingkungan luas. Lalu malamnya dilanjutkan dengan persentasi dari Pak Dodik
Marianto dengan tema : Perempuan berdaya. Pemaparan disini benar-benar
memberikan energi terisi penuh untuk seluruh perserta Konfrensi Ibu Profesional
dengan semboyan yang paling saya ingat: hal pertama untuk mewujudkan mimpi
adalah bangkit dan terus bergerak : dream
it, do it and share it.

Kejutan
berikutnya dihari ketiga adalah hadirnya tokoh Perempuan penuh inspirasi yaitu
Ibu Tri mumpuni yang hadir menjadi pembicara di Konfrensi Ibu Profesional,
menetes haru air mata ini mendengar kisah dan perjuangan beliau sebagai
kecintaan beliau terhadap tanah air Indonesia ini, beliau sungguh menyadarkan
saya betapa saya belum melakukan apa-apa untuk negeri tercinta ini, terimakasih
Ibu untuk kebahagiaan yang kau hadirkan dalam ruang Konfrensi dengan penuh
cinta, semoga Allah SWT memuliakanmu di dunia dan akherat, aamiin. Rangkaian dilanjutkan
dengan tema: Perempuan Berdaya oleh Ibu Septi Peni yang penuh kewibawaan dan
kehangatan khas perempuan yang menjadi pengisi energi para peserta konfrensi. Untuk
sesi akhir acara di hari ketiga ini di tutup dengan pembacaan puisi tentang
kemerdekaan lalu dilanjutkan dengan deklarasi Konfrensi Ibu Profesional oleh Ibu
Septi Peni Wulandari yang berisi komitmen para perempuan untuk terus berdaya
dan menebarkan manfaatnya yang dimulai dari diri sendiri, bersungguh-sungguh
dalam keluarga dan lalu menebarkannya untuk lingkungan disekitarnya. Kuat tekat
saya untuk kembali hadir di Konfrensi Berikutnya dalam tema : SEMESTA KARYA. Aamiin.
Tak
henti-henti rasanya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT yang
telah memberikan izin dan banyak kemudahan untuk dapat hadir dan menjadi bagian
di Konfrensi Ibu Profesional pertama ini. Karena konfrensi ini dalam kacamata
saya ternyata telah mampu menaikan self
esteem (harga diri) , koping strategi
yang efektif dan terbentuknya support system yang solid dalam perasaan
saling memiliki dalam komunitas Ibu Profesional. Bergabunglah seluruh perempuan
Indonesia dan menjadi berdayalah untuk dunia yang lebih baik sebagai
persembahan untuk generasi-generasi berikutnya. Terimakasih Ibu Profesional.
Comments
Post a Comment