Bahkan Cintapun Butuh Ilmu Tentang Cinta
- Get link
- X
- Other Apps
Minggu ini masuk musim yang dikala saya menjadi peserta matrikulasi IP Lampung disebut sebagai NHW "terbaper" sepanjang sejarah, dan tak disangka-sangka ternyata hal ini berlanjut bahkan saat ini, dimoment saya telah menjadi fasilitator di kelas matrikulasi MIIPB#5 Regional Lampung. Materi ini adalah materi ketiga dengan tema " Membangun Peradapan dari Dalam Rumah ", dilanjutkan dengan aplikasinya di Nice Home Work (NHW) untuk peserta matrikulasi agar mereka tidak hanya tertantang membuat konsep, tapi juga terpacu untuk konsistensi dalam eksekusi konsep yang mereka buat. Inilah alasan awal mengapa saya begitu jatuh cinta belajar di Institute Ibu Profesional, metode yang aplikatif dan perubahan yang dimulai dari dalam diri kita sendiri baru melesat keluar diri.
Materi ketiga ini untuk saya merupakan titik balik saya mengenal kembali tentang CINTA, perlahan menyadarkan saya bahwa cintapun butuh ilmu tentang Cinta.
Qadarullah, memasuki materi ketiga " Membangun Peradapan dari Dalam Rumah", disaat yang sama begitu banyak saya temukan tulisan di media sosial dengan tema "Pelakor". Sedih, lucu, geram dan terkadang seluruh tubuh lemas dibuatnya membaca sharing tulisan perempuan yang berstatus korban dengan semua ulasan curahan hati dan tentang kekawatiran akan masa depan si buah hati. Ada benang merah yang mungkin ingin Tuhan sampaikan ke hati saya, hikmah dalam setiap tuturan kisan dan perjuangan se orang ibu untuk memulai membangun peradapan dari dalam rumah.
Berdasarkan data yang saya peroleh untuk keadaan kelas di MIIPB#5 Lampung, peserta begitu antusias menyambut NHW #3 ini. Berbagai ekspresi mereka sampaikan, bahkan ada beberapa aliran rasa yang membuat saya mengalirkan air mata. Begitu banyak para Ibu dengan segenap hati dan perjuangannya untuk memperbaiki kembali rumah tangganya, berjuang membangkitkan kembali rasa cinta diantara mereka dan bangkit berjuang memulai mbangun peradapan dari dalam rumah dengan hadirnya NHW 3 ini. Dan dari hasil survey saya sendiri, bahwa memang di NHW 3 ini fasil akan kena boom curhat dari peserta matrikulasi. Saya hampir-hampir dalam minggu NHW 3 selalu dibanjiri chat curhat dan tak jarang dibanjiri air mata saya sendiri karena terharu betapa kerasnya perjuangan mereka, jatuh bangun dan tertatih dalam perjuangan rumah tangganya.
Yang pertama ungkapan terimakasih seorang Ibu karena telah di kenalkan dengan komunitas IP Lampung. Beliau begitu bersyukur mendapatkan kominitas ini, karena merasa ada banyak teman seperjuangan untuk membangkitkan generasi yang lebih baik, dan beliau sangat menyetujui ungkapan bahwa untuk mendidik satu anak membutuhkan peran serta orang sekampung. Tidak cukup hanya orang tua, kita sebagai orang tua tidak cukup hanya menjadi baik, kita adalah khalofah maka selain menjadi baik mari kita menjadi i spirasi untuk menumbuhkan lebih banyak kebaikan lagi. MasyaaAllah, begitulah tutur beliau saat itu.
Yang kedua, chat seorang Ibu yang mengakui bahwa alasan utama dia bergabung di komunitas IP Lampung adalah untuk penguatan diri. Karena rumah tangganya di ambang kehancuran, dirinya sudah dihadapkan oleh surat panggilan sidang perceraian dari suaminya. Menetes air mata saya menulusuri kata demi kata yang dikirimkan beliau, sesak dan sedih. Ingin sekali saya datang dan memeluk langsung pada saat itu, dan ingin saya bisikan: hayuk mba, jangan menyerah... Hayuk kita hadapi bersama. Saya motivasi untuk tetap mengirimkan surat cinta ke suaminya, anggap ini ikhtiar terakhir dan hasilnya biar Tuhan saja yang menentukan. Saya memutuskan untuk intens mendampingi atas permintaan beliau, saya motivasi dengan segenap hati saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Maka, mengalirlah tulisan surat cinta untuk suaminya, menyampaikan rasa syukur atas semua kesempatan momen bahagia, menyampaikan betapa kebahgiaan itu pernah menjadi kenyataan dalam hidupnya dan di akhir surat cinta beliau tuliskan ucapan terimakasih telah menjadi suaminya selama ini dan memberikan banyak kebahagiaan dan dia ikhlas menyimpan selamanya memori indahnya. Tidak ada keluhan, tidak ada tumpahan kemarahan yang ada hanya ada rasa syukur berkepanjangan. Tepat 2 minggu berlalu, surat cinta telah dibaca oleh suaminya dan tiba-tiba saya mendapatkan kabar bahagia, bahwa rumah tangga mereka saat ini perlahan membaik dan suami telah berkomunikasi kembali dengan istrinya. Saya betul- betul bahagia dan menangis karena rasa syukur, Allahu Akbar semoga Allab terus menjaga kalian dan ridho-Nya. Aamiin.
Cerita ketiga, mendapat chat dari seorang ibu yang menyatakan dia semenjak berpacaran dan 12 tahun menikah tidak pernah menerima surat cinta dari suaminya dan dia juga tidak pernah mengirim surat cinta untuk suaminya. Dia mau menyerah karena merasa tidak mampu merangkai kata-kata sebagai surat cinta. Saya tertegun dan hampir saja terawa geli mendengarnya, ternyata ada juga saya temui langsung tipe rumah yangga seperti ini. Saya tantang si Ibu sebagai motivasi, saya tanya tentang buku kesukaannya dan buku itu belum dia punya. Saya janji akan memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuknya jika dia mau dan berhasil membuat dan mengirimkan surat ci ta untuk suaminya, saya tidak menuntut untuk tahu isi surat cintanya, tapi saya ingin tahu apa reaksi suaminya ketika menerima surat cinta itu. Singkat cerita akhirnya Ibu tersebut memutuskan menerima tantangan saya dan akhirnya menulis serta mengirimkan surat cinta untuk suaminya. Kebahagiaanku bertambah ketika mendengarkan kabar gembira dari si Ibu, dia benar-benar bahagia karena suaminya memposting di media sosialnya bahwa dia bahagia mendapatkan surat cinta dari istrinya, dia mengabarkan kesemua teman-temannya dengan bangga dan membalas surat cinta istrinya dengan romantis dan malamnya sang suami mengajak kencan dan makan malam berdua di luar. Mendengar cerita ini rasanya saya mendapat hadiah undian rumah mewah, entahlah bahagia sekali ketika mnlendengar cerita bahagia orang lain. Alhamdulillah.
Ada banyak cerita bahagia lainnya yang saya terima selama saya menjadi fasilitator di kelas MIIPB #5 Lampung. Sungguh proses ini telah membuat hidup saya menjadi lebih bermakna.
Berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari proses saya menjalani sendiri, hingga proses saya menjadi fasilitator di program Institute Ibu Profesional maka dapat disimpulkan bahwa proses yang berjalan di komunitas Ibu Profesional adalah proses yang layak dan seharusnya bisa di dapatkan semua Ibu di dunia untuk menuju peradapan lebih baik bagi generasi berikutnya. Karena dari tahapan-tahapan NHW yang saya buat saya sendiri memahami tujuannya bahwa NHW telah 'memaksa' saya untuk mampu fokus pada tujuan yang disebut sebagai misi spesifik hidup. Dimana fokus saya dapatkan ketika proses pengkerucutan melalui NHW 1 sampai dengan NHW 7, dan ketika mencapai NHW 8, saya menemukan AHA moment saya sebagai hasilnya adalah " saya mampu menemukan peran yang akan saya tetapkan sebagai diri untuk membangun Peradaban". Dan Goal nya ada di NHW 9.
Puncak kebahagiaan saya adalah, perasaan bahwa saya mengalami proses berkelanjutan untuk bertemunya kehendak saya dengan kehendak Tuhan dalam misi hidup dan produktivitas. Kebermanfaatan dalam 2 kata : Berbagi dan Melayani. Demikian dari saya, Salam Ibu Profesional
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment