Jurnal 1: Identifikasi Masalah

Image
Bismillahirahmannirahiim Hari ini, Kamis 6 Juli 2023 Di rumah sakit Bintang Amin Kamar 6345 Menulis jurnal pertama, mencoba menyemangati diri kembali supaya kembali terhubung dengan komunitas, do some rhing, finish one thing and be happy Be brave, Be real Be you

Anak Bodoh ? Coba Cek Stimulasinya 😍

Sebagai orang tua tentu tidak ada yang ingin anaknya di sebut Bodoh!, namum seringkali tanpa sadar kita sebagai orang tua belum memahami benar apa indikator dari kata BODOH itu sendiri?

" Anak saya gak pakai merangkak, diamah langsung lari. Bakal jadi orang pinter tuh nanti "

" Anak saya dari usia 2 tahun sudah sekolah bu, sekarang 4 tahun dan udah cas cus ngomong bahasa korea"

" Anak saya usia 5 tahun sudah masuk SD, nanti kelas 3 saya ikutkan kelas  akselerasi biar cepat jadi sukses"

Saya pernah terlibat obrolan dengan 3 tema yang di atas, dimulai dengan ungkapan orang tua bahwa anaknya sudah semakin hebat dibanding anak lain, mereka telah jauh didepan dalam mendidik anak-anak mereka, sayangnya mereka menjadi JURI tanpa ilmu. Yang sejatinya sedang berkompetisi adalah orang tua dengan atribut kesombongannya dan ego masing-masing dan sekali lagi ini dilakukan diluar kesadaran apalagi berbasis ilmu perkembangan anak.

Usia bermain anak dipakai untuk belajar, maka bersiaplah ketika masuk usia siap belajar anak, maka anak akan meminta untuk bermain dan mogok belajar. Mengapa? Karena mereka sudah jenuh dengan penggunaan kapasitas kognitif mereka tanpa disertai waktu yang tepat untuk kemaksimalan fungsi kognitif mereka. Ini dampaknya akan terlihat nanti ketika mereka masuk SMU atau memilih Universitas.

Belum lagi tentang gaya belajar dan modalitas belajar. Pada dasarnya manusia memiliki 3 gaya belajar utama yaitu : Visual (mata), Auditory (telinga) dan Kinestetik (Gerak tubuh).

    Gaya belajar merupakan kombinasi bagaimana seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi dalam pikirannya. Setiap anak unik dan setiap anak bisa saja memiliki gaya belajar yang berbeda-beda meskipun mereka saudara kembar.

Mari kita membahas tentang 3 tipe gaya belajar secara umum yaitu:

1. Gaya belajar visual :

Gaya belajar visual adalah tipe yang cenderung lebih mudah menerima dan mengolah informasi melalui indra penglihatan.

Ciri anak memiliki gaya belajar visual adalah :

Lebih mudah ingat dengan melihat, lebih suka membaca. Ciri khas lainnya yaitu terlihat saat anak mendapat instruksi untuk melakukan Sesuatu, biasanya akan melihat orang lain melakukan terlebih dahulu baru kemudian dia sendiri yang mempraktekkan. Anak dengan gaya belajar visual dapat duduk tenang saat belajar meskipun situasi didalam kelas ramai.

Kendala dari tipe visual adalah :

Tidak suka berbicara di depan kelompok dan tidak suka mendengarkan orang lain, memahami instruksi namun tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata dan tidak sedikit diantara mereka memiliki tulisan tangan yang kurang rapi dan cenderung sulit di baca. Selain itu kendala anak tipe visual adalah kurang mampu mengingat dengan baik informasi yang disampaikan secara lisan.

Saran untuk anak tipe visual:

1. Belajar dalam bentuk grafis, gambar atau label untuk menjadi media belajar yang efektif.

2. Sarana film, slide, ilustrasi, coretan, garis bawah, warna-warni dan atau mind maping adalah media efektif untuk memperdalam materi pembelajaran.

3. Memberikan kesempatan untuk berimajinasi dan membayangkan objek atau materi ketika menghafal sesuatu.

4. Perbanyak kegiatan yang dapat memperkaya indra penglihatan.

5. Berikan reward dengan sesuatu yang mereka sukai seperti star chart warna warni dan bergambar.

2. Gaya Belajar Auditory
Gaya belajar auditory adalah tipe yang cenderung lebih mudah menerima dan mengolah informasi yang di dapat oleh indra pendengaran (telinga).

Ciri anak ya g memiliki gaya belajar auditory adalah :

Cenderung mudah mengingat semua hal yang didengarkan dan didiskusikannya. Senang jika mendengarkan atau dibacakan, lebih suka menuliskan kembali sesuatu, terkadang membaca dengan suara yang keras, bisa mengulang cerita yang pernah dia dengarkan, senang berdiskusi dan berbicara menjelaskan sesuatu dengan cepat dan pajang. Mereka juga senang akan musik dan bahasa asing.

Kendala dari anak auditory adalah:

Cenderung banyak ngobrol, terganggu jika belajar dalam keadaan kelas ramai dan berisik. Karena lebih tertarik dengan informasi yang didengarkan terkadang membuat anak kurang tertarik untuk memperhatikan hal-hal baru yang ada dilingkungan sekitarnya.

Saran untuk anak Auditory :

1. Belajar menggunakan metode membaca dengan kencang atau menndengarkan orang lain yang membacanya.

2. Merekam dan mengulang mendengarkan kembali adalah salah satu tips belajar yang efektif bagi mereka.

3. Perbanyak diskusi secara verbal dan libatkan dalam penulisan ide untuk mengikat hasilnya.

4. Melibatkan anggota keluarga untuk memberikan pujian dan motivasi secara verbal untuk anak-anak auditory.

3. Gaya Belajar Kinestetik

Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar yang cenderung lebih mudah menerima dan mengolah informasi  melalui serangkaian aktivitas yang menggerakan seluruh tubuh dan senang memperaktekkan semua hal yang ingin dipelajarinya.

Ciri anak dengan gaya belajar kinestetik adalah :

Gemar menyentuh segala sesuatu yang di temuinya, suka mengerjakan sesuatu dan mengaktifkan tangannya, menyenangi banyak gerakan fisik dan memiliki koordinasi tubuh yang baik serta lebih suka mempraktekkan dan mendemonstrasikan sesuatu dari pada mempresentasikannya.

Kendala anak dengan gaya belajar kinestetik adalah :

Anak sulit mempelajari sesuatu yang bersifat abstrak, kesulitan jika bersekolah dengan gaya konvensional dimana guru menjelaskan dengan metode ceramah dan murid duduk diam di belakang meja, karena memiliki energi lebih maka mereka cenderung susah berkonsentrasi jika energi tersebut belum di fasilitasi sebelum mulai belajar.

Saran untuk anak-anak kinestetik adalah :

1. Pilihkan anak di sekolah yang mengadopsi sisten active learning.

2. Gunakan media belajar berupa peraga, eksperimen dan atau laboratorium khusus anak.

3. Sebelum memulai belajar berikan anak sedikit aktivitas fisik untuk menfasilitasi kelebihan energinya, bisa dengan membantu menyiapkan kelas  atau sekedar memasukan bola ke ring 10 kali.

4. Libatkan secara aktif di dalam kelas seperti menghapus papan tulis, membantu mengumpulkan buku tugas dll.

Gaya belajar anak erat hubungannya dengan kecerdasan anak. Namun percayalah, kecerdasan anak tidak ada hubungan dengan tingginya nilai raport anak di sekolah. Teori psikologi tentang kecerdasan anak sangatlah luas, seluas rahasia kecerdasan manusia itu sendiri. Jika para psikolog menyebut kecerdasan seseorang didapat dari nilai dan satuan angka, maka kecerdasan itu sendiri akan memyempit dalam makna angka itu sendiri. Karena pada akhirnya dalam proses perkembangan ilmu psikologi tidak lagi dominan berdiri sendiri dalam memgartikan makna kecerdasan, karena telah berkembang ke wilayah Spiritual Religius (Agama) dan ternyata kecerdasan punya terminal terakhir, yaitu Profesi yang digeluti secara profesional dan bermanfaat untuk orang banyak.

#ElsyHidayat
#JurnalLeaderLevel4
#Fasillitator

Comments

Popular posts from this blog

Jurnal 1: Identifikasi Masalah

(10) Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng

Jurnal 16 : Peran sebagai Speaker HCVC dan Aliran Rasa