Jurnal 1. Mengikat Rasa Mengikat Makna
- Get link
- X
- Other Apps
Melewati dengan bahagia setiap momen yang menjadi sarana ikhtiar seorang hamba Allah yang telah menjadi seorang Ibu dan di karunia dua orang calon penghuni surga adalah suatu tantangan yang dari hari ke hari selalu membuat saya bergetar dan semakin merasa betapa kerdilnya saya selama ini, betapa banyak hal yang telah terlewat begitu saja dan betapa saya terlupa bahwa ilmu adalah hal yang harus senantiasa kita cari dan pelajari.
Dalam level pertama dengan tema komunikasi produktif, saya diberikan kesempatan untuk memperbaiki cara dan bentuk komunikasi saya dengan diri sendiri, pasangan, dan anak-anak kami. Tantangan yang begitu simpel tapi membawa perubahan besar dalam berkomunikasi yang baik dalam keluarga saya.
Diawali dengan membentuk 'family forum' kami berdiskusi bersama dalam menentukan waktu untuk bisa berkumpul dan membahas banyak hal yang telah kami lakukan hari itu dan rencana apa yang ingin kami lakukan esok hari. Tidak lupa sedikit apresiasi yang kami berikan untuk anggota keluarga yang telah berhasil melakukan hal -hal yang baik dan sedikit evaluasi tentang sesuatu yang belum berhasil kami lakukan. Semua dimintai pendapat dan sebisa mungkin semua di minta untuk bersuara meski pun hanya beberapa kata. Biarlah ini menjadi sarana kecakapan anggota keluarga dalam mengemukakan pendapat dan keberaniannya dalam bersuara.
Setelah berdiskusi, akhirnya terpilihlah "Ayah" sebagai objek utama dalam games level 1 komunikasi produktif ini, dengan pertimbangan bahwa kami harus memperbaiki komunikasi kami terlebih dahulu baru nanti anak-anak bisa menjadikannya sebuah teladan insyaaAllah. Saya menyadari sepenuhnya bahwa selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kami untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
Ada beberapa point awal yang menjadi teori yang sebaiknya menjadi langkah awal dalam memulai komunikasi produktif, selebihnya adalah konsitensi. Beberapa point tersebut adalah ;
👩🏻💼 *_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*👩🏻💼
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif. Saya berusaha memilih dan memilah kata yang akan saya gunakan karena kosa kata adalah pola dan cara kita berfikir, contohnya; Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya. Maka beberapa kata harus saya gantikan agar memiliki energi positif, contohnya:
1. *Masalah* menjadi *Tantangan*
2. *Susah* menjadi *Menarik*
3. *Aku tidak tahu* menjadi *Ayo kita cari tahu*
Setelah beberapa saat saja saya sudah memahami bahwa ; Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
👫 *_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_* 👫
Masuk pada tahap kedua yaitu komunikasi dengan pasangan, maka kesadaran yang harus saya pahami setelahnya adalah: saya berkomunikasi dengan pasangan hidup saya, yaitu manusia dewasa dimana Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan saya dan pasangan harus menerima hal itu.
Perbedaan pola asuh, lingkungan dan latar belakang pendidikan akan membuat kita memiliki *Frame of Reference (FoR)* dan *Frame of Experience (FoE)* yang berbeda dengan kita.
*_FoR_* adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
*_FoE_* adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi perlu kami sepakati disini bahwa memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda. Maka ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan. Karena Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar. Oleh karena itu jika Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi itu artinya kita berkomunikasi dengan cara anak-anak atau orang yang sudah tua. Sayang sekali bukan ?
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Untuk membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi kami sebagai pasangan kami memakai beberapa kaidah teori yang diberikan yaitu:
1. *_Kaidah 2C: Clear and Clarify_*
Menyusun pesan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami dan memberikan kesempatan bertanya, mengklarifikasi (clarify) untuk yang tidak dipahaminya.
2. *_Choose the Right Time_*
Memilih waktu dan suasana yang tepat disepakati 30menit menjelang tidur.
3. *_Kaidah 7-38-55_*
Albert Mehrabian menyampaikan, komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). ini memberikan klue bahwa bahasa tubuh dan intonasi lebih bermakna dari kata-kata. Oleh karena itu dalam menilai pesan yang disampaikan, dapat dengan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh seseorang.
4. *_Intensity of Eye Contact_*
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. *_Kaidah: I'm responsible for my communication results_*
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan. Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Ada kesempatan 10 hari dalam memperaktekkan komunikasi produktif bersama pasangan ini, yang menjadi tantangan adalah konsistensi itu sendiri.
Pada hari pertama adalah meminta Ayah setelah mandi meletakan handuk pada gantungan di belakang pintu. Karena ini menurut saya sedikit mengganggu ketika menemukan handuk basah di atas kasur dan ini bisa merusak mood saya seharian. Maka dimulailah dengan memikirkan kata yang tepat, intonasi yang baik dan bahasa tubuh yang ramah :
"Sayang, setiap selesai menggunakan handuk, tolong digantung di belakang pintu yah"
Ditambah senyum segaris.. trus cusss langsung siapin keperluan sarapan lainnya. Dan bedanya Si Ayah agak bengong, mungkin dalam hatinya gini;
"Eh tumben ga ngomel pagi-pagi " 😉😂
Dan setelah dia berangkat kerja saya periksa handuk telah digantung cantik di belakang pintu, wah.. Alhamdulillah. Hati senang tanpa omelan dan suamipun nyaman di pagi hari. Missi hari pertama selesai dengan cantik.
Pada hari kedua dan beberapa hari setelahnya ada sedikit perubahan suasana karena konflik terjadi, namun tetap berusaha konsisten dengan komunikasi produktif, memilih kata, menahan intonasi dan menahan bahasa tubuh tetap baik.
"Saya sedang marah, tidak bisa diajak diskusi. Kita lanjutkan nanti ketika saya tenang dan kamu tenang "
Lalu terus berlanjut melewati hari demi hari dengan tantangan dan menantang diri sendiri untuk bersedia menjadi pribadi yang lebih baik dan berkomunikasi dengan keluarga. Perubahan yang paling saya rasakan adalah perubahan pada diri saya sendiri. Bahwa saya mampu mengalahkan ego saya dalam keadaan marah sekalipun dan menghargai bentuk komunikasi yang berbeda pada individu yang berbeda yang di bentuk karena adanya perbedaan pola asuh dan lingkungan yang membentuknya sedari kecil.
Lalu apa?
Saya mendapat pujian langsung dari pasangan dan ini menyadarkan saya semakin kita memperbaiki diri maka alam semesta akan turut memberikan senyuman terindahnya pada kita. Semakin menyadari bahwa kehidupan kita akan terus diawasi dan di catat oleh malaikat dan semua nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Maka lakukanlah yang terbaik, selalulah berbuat baik untuk kebaikan diri sendiri.
Akhirnya memang mendapat pencerahan bahwa ADAP adalah pondasi ILMU, sementara ILMU adalah Pondasi AMAL. Dan dengan amal lah kita akan kembali ke kehidupan hakiki. Alhamdulillah hala kuli haal saya bisa diberikan Allah kesempatan belajar di IIP.
#Jurnal1
#KomunikasiProduktif
#ElsyHidayat
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment